Bagaimana jebloknya rupiah menambah beban utang pemerintah
NILAI tukar rupiah pada Jumat, 10 April 2026 menguat 7 poin menjadi 17.083 per dolar Amerika Serikat dari penutupan sebelumnya di level 17.090 per dolar AS.
Sampai Jumat siang pukul 11.00, data Bloomberg menunjukkan rupiah telah menembus level 17.101 per dolar AS. Sedangkan Trading Economics menunjukan rupiah mencapai level 17.102 per dolar AS.
Ekonom sekaligus dosen Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyatakan pelemahan rupiah berisiko bagi beban utang pemerintah dalam bentuk mata uang asing yang tak sedikit. Khususnya pembayaran utang dalam bentuk dolar. “Ini akan meningkatkan biaya bunga dan cicilan pokok utang dalam rupiah,” ucapnya kepada Tempo, dikutip pada Jumat 10 April 2026.
Ia memperkirakan utang pemerintah dalam bentuk mata uang asing saat ini sekitar 25 persen dari total utang. Kondisi ini berisiko meningkatkan rasio utang terhadap pendapatan (debt service ratio). “Perkiraan saya, debt service ratio akan meningkat dari 49 persen menjadi 51 persen jika dolar AS bertengger di level Rp 17.000,” ujarnya.
Berdasarkan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia yang dirilis Kementerian Keuangan, utang luar negeri (ULN) pemerintah sampai Januari 2026 tercatat sebesar US$ 216,3 miliar. Dari total utang tersebut, utang dalam bentuk mata uang dolar adalah US$ 107,46 miliar. Nilainya sekitar Rp 1.826,82 triliun bila dihitung dengan asumsi kurs Rp 17 ribu per dolar AS. Sedangkan secara keseluruhan, posisi utang pemerintah saat ini tercatat Rp 9.637,90 triliun.
Sementara itu, Peneliti Center of Reform on Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa dampak pelemahan rupiah bagi APBN tak sederhana dan bekerja lewat beberapa jalur sekaligus. Yang paling terlihat langsung adalah di sisi subsidi energi karena harga minyak dibayar dalam dolar. Indonesia pun masih mengimpor minyak.
Setiap pelemahan nilai tukar akan langsung meningkatkan biaya pengadaan energi sehingga beban subsidi ikut naik. “Di luar itu, ada juga tekanan dari kewajiban pembayaran utang dalam valuta asing, serta belanja pemerintah yang masih bergantung pada impor,” ucap Yusuf.
Adapun kurs rupiah terhadap dolar dalam asumsi makro APBN 2026 dipatok di level 16.500 per dolar AS. Berdasarkan model sensitivitas yang dipaparkan dalam Buku Nota Keuangan Rancangan APBN 2026, setiap pelemahan 100 rupiah per dolar, dampaknya pada kenaikan penerimaan sebesar Rp 5,3 triliun dan belanja negara membengkak Rp 6,1 triliun. Artinya, setiap rupiah melemah 100 per dolar dari asumsi 16.500 per dolar AS, APBN bakal mengalami defisit sekitar Rp 800 miliar.


0 Response to "Bagaimana jebloknya rupiah menambah beban utang pemerintah"
Posting Komentar